Pemuda dan Hagia Sophia di Pandangan Arisandi Hidayatullah

Advertisement




Pemuda dan Hagia Sophia di Pandangan Arisandi Hidayatullah

SANGRAJAWALI
30 Juli 2020


Oleh: Maghdalena

Malam ini saya mengikuti sebuah diskusi yang santai dan hangat di live instagram. Diskusi ini diadakan oleh akun @aadhon, dengan mengundang @arish_sandjaya Arisandi Hidayatullah, seorang pemuda inspiratif berwawasan luas dari Kalimantan Selatan. Ia juga adalah ketua DPP Rumah Produktif Indonesia Bidang Humas dan Bisnis.

Diskusi ini mengangkatkan topik tentang Pemuda dan Haiga Sophia. Arisandi Hidayatullah yang akrab dipanggil Sandi membuka diskusi dengan memberikan pandangannya tentang pemuda.

Pemuda di mata Sandi adalah sebuah kekuatan yang berada di antara dua kelemahan. Kelemahan pertama adalah ketika dia masih kecil, dan kelemahan kedua adalah ketika dia telah berusia lanjut.

Jadi, siapapun yang berada di antara dua kelemahan ini, mereka adalah pemuda. Pemuda adalah siapa saja yang mengambil peran sebagai pembaharu di tengah umat manusia. Yang senantiasa menjadi pionir dan ujung tombak dalam pembangunan dan perbaikan.

Menurut Sandi, pemuda haruslah memiliki produktifitas yang tinggi. Dia harus senantiasa memiliki karya, dan mewariskan kebaikan bagi generasi setelahnya.

Sandi mencontohkan seorang pemuda di zaman Rasulullah yang sampai hari ini senantiasa menjadi contoh teladan bagi kita semua. Yaitu, Usman Bin Affan. Usman adalah seorang pemuda kaya raya yang senantiasa mengalokasikan hartanya untuk tiga hal, yaitu jihad, keluarga dan masyarakat (kemanusiaan)

Usman menjadi panutan bagi kita sebagai seorang pemuda yang tak pernah kehabisan akal untuk bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Ia selalu memiliki cara dan inovasi untuk bisa produktif dengan skill berdagang yang dia miliki.

Dalam kaitannya dengan Hagia Sophia, Sandi menceritakan tentang seorang pemuda di masa lalu yang sangat berjasa dalam pembebasan konstantinopel, yaitu Sultan Muhammad Al Fatih.

Sultan Muhammad Al Fatih adalah seorang pemuda yang dipilih Allah untuk menjadi pembebas Konstantinopel sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah berabad silam, bahwa nanti Konstantinopel akan dibebaskan oleh seorang pemuda.

Apa penyebab Sultan Muhammad Al Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel? Sandi menyampaikan ada tiga faktor penyebab:

Pertama, adalah faktor keluarga.
Keluarga adalah lingkungan pertama untuk mencetak sosok tangguh, cerdas dan berani. Ia terkondisi untuk menjadi seorang pemimpin di masa yang akan datang, dimulai dari keluarga.

Kedua, adalah faktor guru.
Kita perlu memiliki guru dalam kehidupan. Sosok yang akan menunjukkan jalan yang benar, yang akan memberikan ilmu pengetahuan, yang akan menjadi contoh teladan

Ketiga, adalah hope atau harapan (cita-cita).
Muhammad Al Fatih memiliki cita-cita dan harapan yang tinggi dalam hidupnya. Dia terlatih untuk berpikir jauh ke depan melebihi usianya. Dia tertempa untuk melakukan banyak kebaikan dan menjadi pencetak sejarah yang benderang dalam peradaban islam. Sehingga di usianya yang baru 21 tahun, Al Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel dengan gemilang.

Menutup diskusi tadi, Sandi menyampaikan pesannya agar pemuda senantiasa berbenah diri, selalu belajar dan mengupgrade diri, serta tidak berhenti untuk menghasilkan karya.

Penulis adalah Ketua DPW Rumah Produktif Indonesia Sumatera Barat